Setelah Aliqa Azzahra dan Aisyah Nurhamid, kini giliran Muhammad Ismail yang membuat kaget Bupati Barito Kuala (Batola) Hj Noormiliyani AS. Ketiga bayi ini terlahir dalam kondisi tidak sempurna. Ironisnya bayi-bayi yang lahir nyaris dalam waktu berbarengan ini berasal dari kecamatan yang sama yakni Mandastana.


Aliqa Azzahra yang berasal dari Desa Puntik Luar mengalami jantung bocor bawaan, Aisyah Nurhamid dari Desa Puntik Tengah menderita omfalokel (usus keluar dari pusar), bibir sumbing, telinga kanan tak berlobang serta mengalami jantung bocor bawaan. Sedangkan Muhammad Ismail berasal Desa Sungai Ramania RT 01 RW 01 ini menderita hidrosefalus (pembesaran kepala).
“Rasa lamah lintuhut (rasa lemas lutut ini) melihat kondisi bayi-bayi terlahir seperti ini,” ucap Noormiliyani di sela memberikan bantuan kepada orang tua Muhammad Ismail dari Yayasan Sedekah Kemanusiaan yang dibinanya di Posko Crisis Centre Pemkab Batola, Senin (10/08/2020).


Bupati dikenal sangat peduli anak-anak itu, menekankan jajarannya untuk perlunya evaluasi pelayanan terhadap kesehatan, khususnya di wilayah Kecamatan Mandastana. Mengingat sudah 3 bayi yang lahir dalam kondisi memprihatinkan. 
“Kita akan teliti apa penyebabnya. Apakah karena masyarakatnya yang enggan memeriksakan, apakah karena pelayanannya, apakah karena sulitnya menuju lokasi, atau mungkin pula disebabkan kekurangan infrastruktur,”tandasnya sambil menyatakan dari hasil evaluasi nantinya akan dilakukan tindaklanjut.


Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Batola, dr Hj Azizah Sri Widari menyampaikan, hidrosefalus bisa saja disebabkan oleh asupan gizi yang kurang baik selama usia kandungan. Selain itu faktor kebersihan maupun lingkungan juga rentan menjadi penyebab di samping sangat dibutuhkan rutinitas pemeriksaan selama mengandung.


Muhammad Ismail, yang lahir 23 Juli 2020 tersebut merupakan anak pertama pasangan Piani (42) dan Rahimah (23). Semenjak lahir melalui operasi cesar di Rumah Sakit Islam Banjarmasin kepala bayi itu terus membesar. Padahal ketika dilahirkan ia hanya memiliki bobot 2,8 kilogram, namun sekarang beratnya sudah mencapai 5 kilogram akibat pembesaran pada kepala. 


“Isteri saya sempat menjalani pemeriksaan USG pertama dalam usia kehamilan 8 bulan dan dilanjutkan USG kedua setelah menjalani masa kandungan 9 bulan,” tutur Piani kepada Bupati Hj Noormiliyani AS. 
Selain pemeriksaan USG, lanjut lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai petani dan buruh bangunan tersebut, isterinya juga sering memeriksakan kehamilan di Polindes Sungai Ramania.
Menurut rencana, terangnya, anaknya itu akan dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin untuk perawatan lebih lanjut setelah 4 hari dirawat di Rumah Sakit Islam. Sedangkan biaya pengobatannya ditanggung Kartu Indonesia Sehat (KIS).