Bupati Barito Kuala (Batola) Hj Noormiliyani AS memimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2021 di halaman Kantor Bupati, Jumat (1/10/2017). Bagi Kabupaten Batola upacara bisa dilaksanakan secara langsung karena status PPKM berada di level 2. Sementara bagi daerah yang berada di level 3 dan 4 hanya boleh mengikuti upacara secara virtual.

Pun demikian, Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang digelar di Batola ini tetap memenuhi protokol kesehatan (prokes) ketat hanya melibatkan 4 pleton pasukan dengan jumlah terbatas dari Kodim, Polres, Satpol-PP, korpri serta kelompok andika bhayangkari dari Drumband Generasi Muda Selidah.

Upacara yang juga dihadiri Wakil Bupati H Rahmadian Noor, Ketua DPRD Saleh, Sekda H Zulkipli Yadi Noor dan seluruh anggota forkopimda ini bertindak selaku Inspektur Upacara Bupati Hj Noormiliyani AS dan Komandan Upacara Kabag Prokopimda Hery Sasmita SSTP MAP.

Prosesi upacara sendiri juga berlangsung singkat yang diawali penghormatan pasukan dipimpin Komandan Upacara Hery Sasmita serta mengheningkan cipta dan pembacaan Teks Pancasila dipimpin Inspektur Upacara. Selain itu upacara juga berisi pembacaan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 oleh salah satu ASN di lingkungan Pemkab Batola serta pembacaan Ikrar oleh Ketua DPRD Batola, Saleh dan ditutup dengan doa yang dipimpin Kepala Kemenag Batola H Eddy Khairani Z SAg MPdI.

Upacara kali ini merupakan peringatan ke-57 Kesaktian Pancasila. Tema peringatan kali ini “Indonesia Tangguh Berlandaskan Pancasila”. Tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 153/Tahun 1967 tentang Hari Kesaktian Pancasila, karena berkat kewaspadaan dan daya juang seluruh rakyat Indonesia atas pengkhianatan G30S/PKI yang akan menghancurkan Pancasila dapat ditumpas dan digagalkan.

Hari Kesaktian Pancasila ditetapkan oleh pemerintah untuk menanamkan pesan di hati seluruh masyarakat Indonesia bahwasanya Pancasila sebagai ideologi negara tidak akan pernah tergantikan oleh paham apapun di bumi pertiwi, setelah sebelumnya terjadi upaya penggantian ideologi negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).