Website Induk Pemerintah Daerah

Makam Datuk Abdussamad

courtesy of youtube.com

Makam Datuk H. Abdussamad

Makam Syekh Abdussamad bin Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Kalampayan, dari pihak ibu. Ibu beliau adalah orang Dayak Bakumpai asli yang dinikahi oleh anak Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang bernama Mufti Jamaluddin. Syekh Abdussamad inilah yang berperan besar Islamisasi Dayak Bakumpai. Cucu Datu Kelampayan ini lebih banyak berjuang menyebarkan islam di pesisir Sungai Barito. H. Muhammad Abdussamad lahir pada tanggal 24 Zulkaidah 1237 Hijriah atau 1822 Masehi dari seorang ibu bernama Samayah binti Sumandi di Kampung Bakumpai atau Kampung Tengah Marabahan.

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, begitu kira-kira pribahasa yang pantas bagi keturunan Syekh Arsyad al-Banjari seperti Syekh Muhammad Abdussamad. Riwayat hidupnya pun hampir sama dengan kehidupan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari seperti menuntut ilmu ke Mekkah. Menginjak dewasa, Syekh Muhammad Abdussamad belajar ilmu agama dengan ayah yang juga terkenal sebagai ulama dan beberapa temannya di Martapura. Karena dianggap cukup mempelajari ilmu agama, Abdussamad dipulangkan ke Bakumpai (Marabahan) untuk menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat.

Tak lama setelah kembali ke kampung halaman, Muhammad Abdussamad kawin dengan seorang wanita bernama Siti Adawiyah binti Buris. Dari hasil perkawinan, dikaruniai empat orang anak yaitu Zainal Abidin, Abdul Razak, Abu Thalhah dan Siti Aisyah.

Seperti juga kakeknya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Muhammad Abdussamad haus akan ilmu agama. Karenanya selain mengajar ilmu agama, Muhammad Absuddamad berniaga untuk mengumpulkan uang agar dapat menuntut ilmu ke Mekkah disertai anaknya Abdul Razak.

Syekh Muhammad Abdussmad belajar dan menimba ilmu, baik syariat maupun hakikat seperti dengan guru Allamah Syekh Khatib Sambas. Dalam ilmu hakikat, Muhammad Abdussama belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman Al-Zuhdi An-Naqsyabandy dan belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman bin Muhammad Sumbawa.

Syekh Muhammad Abdussmad bermukim di Mekkah hanya sekitar delapan tahun, karena guru-gurunya menyuruh untuk kembali ke kampung halaman guna menyebarkan agama. Sebelum pulang, Syekh Muhammad Abdussamad diuji oleh keponakan yang terlebih dahulu menimba ilmu di Mekkah H. Jamaludin bin H. Abdula Hamid Qusyasyi. Karena ketinggian ilmu tarekatnya, Syekh Muhammad Abdussamad sempat hilang saat shalat. Atas ketinggian ilmu tarekatnya itu, keponakannya yang tadinya melarang untuk pulang ke kampung halaman, akhirnya mempersilahkan.

Sekembali di kampung halaman, Syekh Muhammad Abdussmad mulai membuka pengajian dan ramai dikunjungi para penuntut ilmu dari berbagai daerah. Untuk menampung para penuntut ilmu, Syekh Muhammad Abdussmad membangun sebuah langgar di depn rumah dan membangun balai yang saat ini menjadi kubah almarhum di Marabahan.

Dalam kegiatan dakwahnya, Syekh Muhammad Abdussamad selalu melakukan perjalanan ke pesisir Sungai Barito sampai ke udik-udik anak sungai untuk mendakwahkan Islam. Tak heran, banyak suku dayak pedalaman yang memeluk agama islam. Genap berusia 80 tahun, Syekh Muhammad Abdussamad meninggal dunia tepat pada tanggal 13 Safar 1317 H.

Makam Syekh Muhammad Abdussamad ini terletak di Jl. Veteran Kecamatan Marabahan. Objek wisata ini cocok sekali untuk anda yang suka melakukan wisata religius.

Jl. Pangeran Antasari No. 01
Telp. (0511) 4799041
Fax. (0511) 4799139
Email : setda@baritokualakab.go.id