Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat pengembangan beras khusus sebagai upaya diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.
Melalui inovasi Si-DARA BERLIAN, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kalsel mendorong pengembangan beras khusus dari budidaya hingga hilirisasi dengan dukungan program seluas 900 hektare pada 2026.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP Kalsel, Rahmawati, mengatakan Kalimantan Selatan memiliki potensi besar dalam pengembangan beras khusus. Saat ini, tercatat 27 varietas padi khusus telah terdaftar di Kementerian Pertanian, sementara tiga varietas di antaranya telah memperoleh pelepasan.
Potensi tersebut menjadi landasan pengembangan Si-DARA BERLIAN (Sistem Inovasi Pengembangan Budidaya dan Hilirisasi Beras Khusus Bernilai Tinggi), sebuah inovasi yang diinisiasi Rahmawaty untuk menghubungkan pengembangan beras khusus secara terpadu, mulai dari budidaya hingga pengolahan dan pemasaran.
“Selama ini, pengembangan beras khusus masih menghadapi tantangan karena berbagai potensi yang ada belum sepenuhnya dikelola dalam satu rangkaian pengembangan yang menghubungkan budidaya, penanganan hasil, pengolahan, pengemasan, branding, hingga pemasaran,” ujar Rahmawati, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, Si-DARA BERLIAN hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan mendorong pengembangan beras khusus secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Inovasi ini berawal dari pengamatan lapangan, kunjungan ke lokasi, dialog bersama petani, serta identifikasi potensi dan permasalahan pengembangan beras khusus di Kalimantan Selatan.
Berbagai beras khusus khas Banua menjadi bagian dari pengembangan tersebut, di antaranya Beras Buyung, Lantik Merah, Gedagai, Saluang Madui, Ranggung, Manai, Lakatan Tabat Murakata, dan Paketih.
Selain varietas lokal, inovasi ini juga mencakup pengembangan padi biofortifikasi yang memiliki nilai strategis dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat dan upaya pencegahan stunting.
Oleh karena itu, Implementasi Si-DARA BERLIAN semakin diperkuat melalui dukungan anggaran APBD DPKP Kalsel Tahun Anggaran 2026. Bidang Tanaman Pangan mengalokasikan pengembangan padi Buyung dan padi ketan seluas 500 hektare, serta padi biofortifikasi seluas 400 hektare.
Dengan demikian, total areal pengembangan yang didukung melalui program tersebut mencapai 900 hektare.
“Alokasi ini menjadi langkah konkret dalam menerjemahkan inovasi ke dalam kegiatan budidaya di lapangan. Pengembangan beras khusus tidak lagi sebatas gagasan, tetapi mulai diwujudkan melalui program yang mendukung perluasan areal tanam,” ungkapnya.
Sejak mulai dikembangkan pada 2024, Si-DARA BERLIAN terus diperkuat melalui berbagai tahapan, mulai dari uji coba dan pengembangan budidaya hingga pengembangan produk hilir.
Selain itu, Pengembangan Si-DARA BERLIAN tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kualitas dan daya saing produk beras khusus Kalimantan Selatan.
“Melalui pendekatan hilirisasi, beras khusus didorong memiliki identitas produk, kemasan, branding, serta akses pasar yang lebih baik. Kegiatan promosi dan pengenalan produk melalui pameran maupun expo juga menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pasar,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, kata Rahmawati beras khusus diharapkan tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai produk pangan yang memiliki karakteristik, identitas, dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pengembangan ini sekaligus membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar melalui penguatan rantai nilai, dari produksi hingga pemasaran.
“Melalui Si-DARA BERLIAN, DPKP Kalsel berupaya memperkuat keterhubungan antara petani, produksi, pengolahan, produk, dan pasar agar potensi pangan lokal dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ucapnya.
Ke depan, pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan luasan budidaya, tetapi juga pada penguatan kualitas produk dan hilirisasi sehingga beras khusus mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha.
Inovasi ini menjadi bagian dari upaya menjadikan kekayaan pangan Kalimantan Selatan tidak sekadar dipertahankan sebagai potensi lokal, tetapi juga dikembangkan, ditingkatkan nilai tambahnya, dan diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.
“Melalui pemanfaatan inovasi, teknologi, dan diseminasi, pengembangan beras khusus diharapkan turut memperkuat posisi Kalimantan Selatan sebagai sentra pangan sekaligus gerbang menuju Ibu Kota Nusantara,” pungkasnya. MC Kalsel/tgh

