Sebanyak 132 atlet Sentra Pembinaan Olahraga Berbakat Daerah (SPOBDA) Kalimantan Selatan menjalani tes fisik berbasis sport science yang melibatkan konsultan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. 

Evaluasi yang digelar Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalsel ini bukan sekadar mengukur kondisi atlet, tetapi juga menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan keberlanjutan pembinaan mereka ke depan.

Kadispora Kalsel, Pebriadin Hapiz melalui Kepala Seksi Pengelolaan Olahraga dan Sentra Olahraga Dispora Kalsel, Asfia Urrahman, mengatakan tes fisik kali ini melibatkan 132 atlet dari 14 cabang olahraga yang berasal dari sembilan kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

“Jumlah atletnya 132 orang, terdiri dari 14 cabang dengan 24 titik pengukuran dan berasal dari 9 kabupaten/kota,” ujar Asfia di SKB Mulawarman Banjarmasin, Minggu (21/6/2026).

Adapun cabang olahraga yang mengikuti tes meliputi angkat besi, gulat, loncat indah, tinju, renang, panahan, sambo, panjat tebing, pencak silat, dayung, judo, triathlon, karate, dan taekwondo.

Menurut Asfia, tes fisik yang rutin dilaksanakan setiap enam bulan ini bertujuan untuk memantau perkembangan atlet secara objektif. “Bagi atlet yang telah lama bergabung dalam program SPOBDA, hasil tes menjadi pembanding untuk melihat peningkatan performa dibandingkan periode sebelumnya. Sementara bagi atlet baru, hasil tes akan menjadi data awal atau baseline untuk evaluasi berikutnya,” ungkapnya.

Ia menegaskan, hasil evaluasi menjadi salah satu indikator penting dalam pembinaan atlet. Atlet yang tidak menunjukkan perkembangan bahkan mengalami penurunan performa akan menjadi perhatian khusus dalam proses evaluasi.

Selain itu, Asfia mengungkapkan bahwa kondisi keuangan daerah berpotensi membuat jumlah atlet SPOBDA lebih selektif pada tahun mendatang. Namun penilaian tidak dilakukan berdasarkan cabang olahraga, melainkan capaian parameter fisik masing-masing atlet.

“Yang dipertahankan adalah atlet yang memenuhi standar parameter fisik yang telah ditetapkan, bukan berdasarkan cabang olahraganya,” jelasnya.

Sementara itu, konsultan sport science dari UPI Bandung, Iman Imanudin, menjelaskan tes kali ini merupakan evaluasi kedua sepanjang tahun 2026 setelah pengukuran awal dilakukan pada akhir Desember 2025 hingga Januari 2026.

Menurutnya, hasil sementara menunjukkan adanya perkembangan positif dari sebagian besar atlet setelah menjalani enam bulan program pembinaan dan latihan.

Iman menerangkan bahwa sistem pembinaan SPOBDA dirancang dalam dua periode evaluasi setiap tahun, yakni Januari–Juni dan Juli–Desember. “Dengan pola tersebut, perkembangan atlet dapat dipantau secara berkala dan terukur,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, tes fisik mengukur empat komponen dasar, yakni fleksibilitas, kecepatan, kekuatan, dan daya tahan. Namun jumlah item tes berbeda pada setiap cabang olahraga sesuai karakteristik kebutuhan masing-masing.

Ia juga menekankan pentingnya integritas dalam proses pengukuran. Menurutnya, rekayasa hasil tes justru akan merugikan atlet karena program latihan yang disusun tidak lagi sesuai dengan kondisi fisik sebenarnya.

“Hasil tes harus mencerminkan kondisi atlet yang sesungguhnya agar program latihan yang diberikan tepat sasaran,” tegasnya.

Target jangka panjang dari evaluasi berbasis sport science ini adalah meningkatkan kualitas atlet SPOBDA hingga mampu mencapai standar fisik atlet tingkat nasional, termasuk parameter yang digunakan pada ajang POPNAS.

Dukungan terhadap metode pembinaan berbasis data juga datang dari para pelatih. Pelatih Sambo Kota Banjarmasin, Rendi Aditya Saputra, menilai tes fisik menjadi instrumen penting untuk memotivasi atlet agar lebih disiplin dan bersemangat dalam menjalani latihan.

“Ini menjadi acuan yang baik bagi atlet untuk mengetahui perkembangan mereka dan memacu semangat latihan ke depannya,” ujarnya.

Melalui kolaborasi dengan UPI Bandung dan evaluasi rutin setiap enam bulan, Dispora Kalsel berupaya membangun sistem pembinaan atlet yang lebih ilmiah, objektif, dan terukur. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi yang tidak hanya mengandalkan bakat, tetapi juga didukung data dan metode pembinaan modern. MC Kalsel/tgh